GRAFIK KEHIDUPAN : SYUKUR, SABAR, DAN IKHLAS
SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / Masjid Ikomah UIN Bandung Akan Menerima Visitasi Tim Lomba Web Masjid Pusdai (19/01/2021)
  • 1 tahun yang lalu / Kultum Selasa, 19 Januari 2021: Bapak Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag
WAKTU :

GRAFIK KEHIDUPAN : SYUKUR, SABAR, DAN IKHLAS

Terbit 15 Januari 2021 | Oleh : wp_adminsys | Kategori : Kultum
GRAFIK KEHIDUPAN : SYUKUR, SABAR, DAN IKHLAS

Oleh : Drs. Asep Saeful Mimbar, M.Ag

Alhamdulillah dalam kesempatan kali ini kita masih diberikan ruang dan kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan kita, Betapapun kita setiap saat dihadapkan pada realitas pada kenyataan kenyataan hidup baik yang menyenangkan maupun yang boleh jadi menyakitkan, tetapi agama kita memberikan sebuah perspektif sebuah pandangan lain yang mudah-mudahan ini bisa memberikan kesegaran baru buat kita.

Saya ingin menyampaikan dalam kultum ini hal yang sangat sederhana sekali hal yang sangat simpel tetapi menjadi sangat penting yakni tentang bagaimana kita dalam grafik kehidupan yang kita jalani ini kita selalu on the track ya, tetap di jalan yang lurus untuk itulah barangkali grafik kehidupan kita menjadi sangat simpel dan sederhana tetapi menjadi sangat nikmat jadi grafik kehidupan kita ini sebetulnya adalah tidak lebih dan tidak kurang antara syukur dan sabar, banyak orang yang kemudian di dalam realitas kehidupan yang seringkali kemudian dia menghadapi kenyataan kenyataan hidup ini lalu dia gagal karena dia keliru gagap dalam memahami Grafika kehidupan, sedikit-sedikit orang ngeluh, sedikit-sedikit dia tidak tahan uji padahal sesungguhnya dalam grafik kehidupan itu cukup syukur, sabar, ikhlas.

Uraikan satu persatu yang sangat singkat ini karena kita oleh Allah subhanahu wa ta’ala telah diberikan berbagai limpahan karunia yang sangat banyak, kesehatan, kehidupan, karir, ilmu pengetahuan dan sebagainya, itu adalah anugerah maka wajib kita bersyukur untuk mendayagunakan, memanfaatkan seluruh Anugrah Ya Allah berikan kepada kita kenapa ? Karena yang terjadi sebaliknya secara ekstrem jika orang diberikan kenikmatan ilmu pengetahuan, kekuasaan, karir, ekonomi, kesehatan, ketika dia tidak mampu bersyukur maka titik yang paling ekstrem itu adalah ia menjadi lupa daratan, betapa banyak orang yang memberikan ilmu pengetahuan Lalu dia tidak bisa mensyukurinya maka dia terjebak pada sikap arogansi intelektual, kesombongan ilmu, di luar dirinya adalah salah, di luar dirinya adalah keliru, hanya saya yang memiliki kemampuan dan kapasitas. Ketika dia diberikan kekuasaan maka dia akan bersyukur, maka kekuasaan itu akan dijalankan dengan penuh amanah, akan membela nilai-nilai keadilan, membela umat, membela rakyat, maka di situ artinya bersyukur. Tetapi ketika dia gagal mensyukurinya maka yang terjadi kekuasaan adalah bisa jadi menyimpang, boleh jadi menindas, seperti itu. Sekarang sebaliknya grafik kehidupan itu kan selalu antara nikmat dan tidak nikmat, sekarang sebaliknya kalo kita diberikan satu kenyataan hidup yang pahit, apa yang harus kita lakukan ? tentu saja yang kedua adalah sabar, jadi ketika kita dihadapkan pada suatu kenyataan hidup yang pahit, yang pelik, yang rumit, maka bersabarlah. Secara rohani sikap sabar itu adalah nikmat sesungguhnya tapi banyak orang yang tidak memahaminya maka tidak sedikit orang yang kemudian ketika diberikan kerumitan kerumitan itu maka yang paling ekstrem adalah dia menjadi putus asa, dia menjadi jalan pintas.

Oleh sebab itu hadirin yang berbahagia, maka syukur dan sabar ini harus 24jam nempel di dalam kehidupan kita, senang sedikit bersyukurlah, riweuh saeutik bersabarlah, kenapa ? karena secara rohani sesungguhnya syukur dan sabar itu nikmat hanya persoalannya orang selalu memahami bahwa yang nikmat itu adalah yang harus selalu hal-hal yang menyenangkan tetapi ketika diberikan kerumitan-kerumitan hidup, banyak orang yang tidak tahan uji dan tidak tahan banting. Maka dia senang untuk melakukan jalan pintas, di atas itu syukur dan sabar itu maka sikap ikhlas lah dalam menerima kenyataan kenyataan itu baik yang manis maupun yang pahit. Kenapa kemudian syukur sabar kemudian ikhlas ?, saya simpan yang terakhir.

Itu ada Quran surat al-ikhlas namanya tapi isinya tauhid, hampir seluruh surat Alquran ada 2 surat yang namanya disebut suratnya tetapi kata-kata itu tidak ada di dalam Alquran itu, pertama adalah al-fatihah yang kedua al-ikhlas, selebihnya surat Al Baqarah, An-Nisa, Ali Imron, Al Insyirah, al-waqiah, dan lain sebagainya pasti disebut surat itu kata itu disebut. Tetapi kata ikhlas itu adalah kita mengenalnya surat “QULHU” padahal itu adalah al-ikhlas, ada dua Hikmah yang bisa kita ambil dari surat itu, pertama adalah itulah cara Allah memberikan pelajaran kepada kita yang namanya ikhlas tidak harus disebutkan, kira-kira begitu. Jadi kalau kita berbuat baik lalu kita katakan “Sumpah saya ikhlas”, itu harus dipertanyakan sesungguhnya, kenapa ? karena ketulusan itu kata Allah tidak boleh disebutkan logikanya begitu secara filosofis. Kedua, ikhlas itu adalah energi kebaikan yang datang dari Allah yang Esa – Tauhid, maka dia tidak boleh terbagi, ketika ketulusan terbagi maka dia tidak ikhlas lagi, kira-kira begitu. Inilah yang menjadi catatan penting. Terakhir saya ingin menyingkatnya saja, kalau begitu bagaimana caranya ? karena kita akan sampai pada satu pernyataan, ikhlas itu mudah diucapkan tapi susah untuk diimplementasikan, sebetulnya ada sebuah upaya pendekatan yang penting, kita perlu riyadhoh untuk membangun ketulusan, bagaimana caranya ? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu menjawab di dalam sebuah hadis yang menurut saya sangat keren, kata Rasulullah “Man akhlaksho lillahi arba’ina yauman yanabi’ul hikmati min qolbihi ‘ala lisanihi” – Barang siapa yang ikhlas karena Allah dalam waktu 40 hari pasti Allah pancarkan hikmah, ilmu yang datang dari hatinya atas lisannya. Saya baca di situ sebagian menyebutnya hadits dhaif, ada yang menyebut mauquf tapi al-albani menyebutnya sebagai hadits marfu yang sampai kepada Rasulullah. Saya tertarik dengan konten isi Hadis itu “Barang siapa yang ikhlas karena Allah dalam waktu 40 hari pasti Allah pancarkan hikmah, ilmu yang datang dari hatinya atas lisannya”. Jadi “Man akhlasho” itu harfu sartin, tafajarot itu jawabursatin jadinya. Jadi jika – maka, Nah 40 hari yang harus dilakukan oleh kita agar memperoleh suatu kenikmatan rohani, apa 40 hari yang harus kita lakukan ? inilah Riyadhoh (ketulusan), saya bagi dua saja, pertama adalah coba kita latih untuk mengendapkan seluruh energi negatif yang sering kali tumbuh menempel di dalam jiwa kita, hentikan energi negatif. Apa energi negatif yang seringkali menempel ke dalam tubuh kita sehingga kita tidak tulus ? energi-energi negatif itu adalah perilaku-perilaku moral yang buruk, akhlak-akhlak yang buruk, ini harus di NOL-kan, kalau Kata Rumi itu barang siapa yang bisa mengendapkan nafsunya niscaya engkau akan berdiri di atas awan saking ringan yang mungkin secara maknawi, secara simbolik bukan dalam arti fisik. Jadi hentikan seluruh energi negatif, kalau selama ini kita punya tradisi su’udzon, nyinyir, dengki,  hasud, takabur, senang kepada kemaksiatan, senang pada satu yang diharamkan oleh Allah, maka mulai hari ini kita hentikan. Berapa lama ? ini yang harus dilatih selama 40 hari, kalau 40 hari kita sukses menghentikan seluruh energi negatif, tentu saja secara teknis bisa saja mulai hari ini kita hentikan tradisi ghibah, sesungguhnya tradisi itu merusak secara rohani, secara mental terhadap kita sehingga ketulusan kita tidak muncul, jadi perilaku ghibah, hasud, dengki, iri, riya, coba satu persatu, jadi kalau simpelnya kalau sehari kita marah misalnya berapa kali ? 5 kali, ini Mas Jamal kalau suka marah nih kalau sehari marah 5 kali istri ke anak, maka mulai hari ini mungkin dikurangi menjadi dua kali sampai kemudian di titik NOL, sampai dalam waktu 40 hari kalau kita bisa mengendapkan energi negatif, maka kita akan nyaman menghadapi kenyataan hidup betapun pahit sesungguhnya. Jadi hentikan energi-energi negatif.

Saya membayangkan kalau kampus kita menghentikan seluruh energi negatif maka saya kira UIN Bandung akan menjadi mercusuar ditengah masyarakat Jawa Barat. Kedua, naikkan energi positif, apa itu ? yaitu syukur, sabar, ikhlas, tawakal kepada Allah dinaikkan dengan penuh rasa ketulusan. Di dalam Al-quran itu ada waktu-waktu tertentu pada waktu pagi dan petangs pada saat itulah kita menyatakan perasaan kita ketulusan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sungguh-sungguh, misal begina, kalau tadi habis shalat yang lima waktu lalu wirid sejenak setelah itu kita melakukan refleksi atau renungan. Dalam perenungan itu dinyatakan  begini boleh dalam hati, bleh mengawali dengan istighfar, boleh dengan bersholawat kepada nabi, lalu setelah itu nyatakan, “Ya Allah aku ikhlas betul apa yang kau putuskan apa yang kau tetapkan kepada hamba” nyatakan itu dalam hati dengan penuh ketulusan tanpa pretensi, sehingga itu akan merasakan satu aliran darah dari atas ke bawah itu nikmat banget, nyatakan, “Ya Allah aku ikhlas betul apa yang kau putuskan apa yang kau tetapkan dan aku ikhlas menerimanya baik yang manis maupun yang pahit” di dalam hati rasakan tanpa pretensi sehingga suasana sunyi secara rohani, saat itulah kita akan terlatih dalam waktu idealnya kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 40 hari, saya kira ini bukan tradisi mistik dalam arti klenik, dalam 40 hari lebih saya memahami  sebagai proses habituasi, proses membiasakan diri untuk membangun nilai-nilai kebaikan nilai-nilai kesalehan pada situasi tertentu hal ini terjadi, saya sekira seperti yang pernah saya sampaikan di kesempatan ini bukan buka di masjid ini kata peneliti Jepang, Dr. Murogami, orang yang melakukan tradisi kebaikan dalam kehidupannya, maka seluruh alam semesta maka akan welcome terhadap orang itu, kira-kira begitu.

Jadi inilah para hadirin yang berbahagia mudah-mudahan ini memberikan spirit Gairah dan Giroh diri kita secara spiritual sehingga insya Allah kita akan menjadi hamba Allah yang teruji karena sikap syukur, sabar dan ketulusan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menerima kenyataan-kenyataan hidup termasuk kenyataan-kenyataan yang pahit karena menerima kenyataan-kenyataan yang manis rata-rata semua manusia menerima dengan ketulusan tapi untuk merasakan kenyataan hidup yang pahit Inilah yang harus dilatih tradisi-tradisi ketulusan yang kata Rasulullah Shallallahu salam dalam waktu 40 hari itulah pasti Allah akan pancarkan hikmah, ilmu kepada kita semua.

Barangkali itu yang sempat dan yang dapat saya sampaikan mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberkahi kepada kita semua.

wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

SebelumnyaUstaz Nase: Inilah Bahaya Melupakan Al-Qur’an!

Tausiyah Lainnya